marishellafatfood.com – Konsep kuliner berbasis ayam kini semakin populer di kalangan pelaku usaha restoran. Salah satu contohnya adalah Daytrip Counter, yang dahulu dikenal sebagai Daytrip, di Oakland, yang dipimpin oleh koki Finn Stern dan istrinya, Stella Dennig. Setelah mengalami kesulitan keuangan dan akhirnya menutup bisnis sebelumnya, pasangan ini kembali membuka restoran dengan fokus pada ayam rotisserie dan salad sebagai menu utama. Sejak dibuka kembali awal tahun ini, Daytrip Counter memberikan opsi makanan yang lebih sederhana namun tetap menarik, dengan harga yang terjangkau seperti setengah ayam seharga $17.
Mengapa tren ayam menjadi begitu dominan? Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi ayam per orang di AS melonjak melebihi 100 pon per tahun, menjadikannya sebagai sumber protein hewani utama bagi banyak orang. Fenomena ini bukan hanya terbatas pada restoran tradisional, tetapi juga menjangkau kedai cepat saji yang menyesuaikan menu mereka dengan mengutamakan produk ayam, seperti KFC yang memperbesar penawaran chicken tenders-nya.
Menurut Stern, keuntungan dari penjualan ayam tidak hanya terletak pada keandalannya di pasar restoran yang tidak menentu, tetapi juga karena permintaan yang stabil. Restoran yang berfokus pada menu ayam lebih memiliki kesempatan untuk bertahan dalam iklim bisnis yang ketat. Tidak hanya itu, dengan menawarkan menu yang lebih sederhana dan dapat diakses, Daytrip Counter berhasil meningkatkan jumlah pelanggan tetap yang datang lebih sering dibandingkan sebelumnya.
Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait biaya bahan baku yang terus meningkat akibat fluktuasi harga ayam di pasaran. Stern mengungkapkan kekhawatirannya mengenai keberlangsungan model bisnis ini jika harga terus melambung. Meski demikian, dengan pendekatan yang tepat, ayam tetap menjadi pilar yang menarik dalam dunia kuliner.